Senin, 20 April 2020

METODOLOGI STUDI ISLAM ( Model Studi Islam Dengan Pendekatan Bahasa Arab )

METODOLOGI STUDI ISLAM

( Model Studi Islam Dengan Pendekatan Bahasa Arab )

ZAKIYAH NURBAYANI

e-Mail : kikizakiyah2203@gmail.com

 

Abstrak:

Seiring dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka semakin banyak pula persoalan baru yang dihadapi manusia. Kehadiran islam sebagai penyelamat sangat diharapkan untuk menjawab setiap problematika yang ada. Namun islam tidak bisa menjawab semerta-merta persoalan tersebut tanpa ada upaya untuk memahami dan mempelajarinya. Ruang lingkup ajaran islam  sangatlah luas maka dibutuhkan suatu metode yang tepat dalam mempelajari islam. Seluruh ajaran islam bersumber dari Al-Qur’an maka salah satu cara yang digunakan untuk mempelajari islam adalah dengan salah satunya memahami Al-Qur’an. Al-Qur’an yang Allah turunkan menggunakan bahasa Arab, sehingga perlu adanya penguasan terhadap keilmuan atupun kaidah-kaidalah dalam bahasa arab untuk menafsirkan dan memahami Al-Qur’an. Pengkajian dalam tulisan ini menggunakan metode deskriptif-analisis terhadap Qs. Al-Ahzab ayat 33. Ayat ini menjadi bahan pembicaran di jejaring sosial media karena dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi saat ini yaitu Virus Corona. Adapun hasil yang didapatkan dari analisis ialah adanya kesalahan dalam memahami kosa kata, kaidah bahasa dan konteks dari ayat tersebut. Pengkajian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang perlunya pendekatan bahasa arab sebagai syarat mutlak untuk memahami Al-Qur’an dan meminimalisir terjadinya kekeliruan.

 

Kata Kunci: Metodologi, studi islam, Al-Qur’an, Bahasa Arab

Abstrak:

Along with the development of science and technology progress, then more life problems are  faced by humans. The presence of Islam as a savior is expected to answer any existing problematics situation. However, Islam cannot just answer that problem without any effort to understand and study it because the scope of the teachings of Islam is very broad. Therefore, we need an appropriate method in studying Islam. As it is known, all the teachings of Islam are sourced from the Qur'an, so one of the ways used to study Islam is by understanding the Qur'an. In order to able to understand and interpret the contents of Al-Qur'an which Allah sent down using Arabic, it is necessary to master scientific knowledge and rules of Arabic. The study uses a descriptive-analysis method toward Qs. Al-Ahzab verse 33. This verse becomes a main issue of discussion in social media networks because it is associated with an epidemic that occurs at this time namely Corona Virus. The result obtained from the analysis is an error in understanding the vocabulary, language rules and context of the verse. This study aims to provide an overview of the need for an Arabic language approach as an absolute requirement to understand the Qur'an and minimize the occurrence of errors.

 

Key Words: Methodology, Islamic study, Al-Qur’an, Arabic Language

 

A.    PENDAHULUAN

Pengkajian dalam islam sebenarnya tidak bisa dilakukan dengan satu metode atau satu pendekatan saja, karena ruang lingkup ajaran Islam sangatlah luas. Islam bukan hanya berbicara tentang bagaimana hubungan antara manusia dengan Tuhan, islam bukan hanya berbicara tentang solat, zakat, puasa atau ibadah lainnya. Tetapi Islam mengatur semua aspek kehidupan, bagaimana hubungan antar sesama manusia bahkan dengan alam atau lingkungan. Maka dalam pengkajiannya diperlukan pula berbagai pendekatan atau metode yang sesuai dengan objek yang dikaji. Kemudian untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dan sempurna tentang islam sebenarnya banyak objek yang harus dikaji sepeti Al-Qur’an, Hadis, sejarah nabi, Theologi (ilmu tentang ketuhanan) dan lain sebagainya yang berkaitan dengan islam tentunya dengan menggunakan metode pengkajian yang tepat.

Al-Qur’an adalah salah satu objek pengkajian dalam islam. Al-Qur’an merupakan sumber hukum pertama dalam islam yang digunakan sebagai pusat rujukan umat islam dalam menjalankan roda kehidupan, baik rujukan sebagai ilmu pengetahuan, tutunan ibadah ataupun sebagai jawaban untuk persoalan-pesoalan baru yang dihadapi umat manusia. Sebagaimana Hal ini ditegaskan Firman Allah SWT dalam Qs Al-Baqarah ayat 185,

  ﲈ ﲉ ﲊ ﲋ ﲌ ﲍ ﲎ  ﲏ ﲐ ﲑ ﲒ

 

Artinya : “Bulan ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penejelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dengan yang bathil. )Qs. Al-Baqarah ayat 185(

Ibnu Katsir menjelaskan: “Ini adalah pujian Allah terhadap Al-Qur’an, bahwa Ia menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi para hamba yang beriman kepada al-Qur’an, membenarkan serta mengikuti tuntunan Al-Qur’an. Sedangkan بَيِّنَاتٍ /bayyinaat/ artinya sebagai dalil dan hujjah yang jelas, terang dan gamblang bagi orang yang memahami dan mentadabburinya, sehingga menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar sebuah petunjuk yang menafikan kesesatan dan sebuah pedoman yang menafikan penyimpangan. Al-Qur’an juga diturunkan sebagai pembeda antara haq dan batil, antara halal dan haram” (Tafsir Ibni Katsir, 1/215).

Dari tafsir tersebut sudah sangat jelas terlihat bagaimana fungsi Al-Qur’an bagi manusia, yaitu sebagai petunjuk dan pembeda, maka Al-Qur’an akan selalu dijadikan pusat rujukan disetiap saat. Hal tersebut membuktikan bahwa Al-Qur’an menempati posisi sentral dalam studi islam.

Untuk mendapatkan pemahaman yang jelas tentang Al-Qur’an maka perlu pemahaman dalam menguasai bahasa yang menjadi penuturnya yaitu bahasa Arab. Pemahaman yang hanya mengandalkan terjemahan hanya akan menghasilkan pemahaman yang bias dan pemahaman yang dangkal, sehingga tidak akan mampu menangkap makna penting yang justru dibutuhkan.

Banyak hal yang bisa dicapai oleh penerjemahan, sebab penerjemahan adalah penyederhanaan. Padahal, Al-Qur’an tidak sesederhana penerjemahannya. Sebagus apapun sebuah terjemahan, tetap tidak akan menyajikan semua yang terkandung dalam bahasa aslinya. Terlebih lagi Al-Qur’an merupakan kitab suci yang sangat mendalam, bukan hanya menyimpan makna lahir tetapi juga makna batin. Selain itu, pengaruh bahasa ibu dan ketidaktahuan dalam kaidah-kaidah bahasa arab saat menerjemahkan kata dapat memicu kekeliruan dalam memahami maksud kata yang sesungguhnya. Maka dari itu pendekatan yang bisa dilakukan untuk memahami atau memepelajari Al-Qur’an sebagai sumber ajaran umat islam yaitu dengan pendekatan bahasa Arab. Karena untuk memahami sesuatu, kita harus memahami konteks yang mengitari sesuatu tersebut, dan Bahasa Arab dalam Al-Qur’an jelas memiliki konteksnya tersendiri.

Dalam tulisan ini, penulis hanya akan fokus membahas salah satu pendekatan yang sangat penting dalam studi islam yaitu pendekatan bahasa arab dengan objek yang dikaji adalah Al-Qur’an.

 

1.      Studi Teori

a)      Metodologi Studi Islam

Metodologi ibarat kunci yang bisa membuka pintu rumah, pintu mobil, atau pintu lemari. Tanpa kunci kita tidak akan mampu membuka pintu rumah dan melihat isinya. Tanpa kunci kita tidak bisa menjalankan mobil dan mengantarkan kemana arah yang kita tuju. Tanpa metodologi kita tidak mampu melihat isi ajaran Islam dengan baik. (Azimi, 2004) Metodologi  berasal dari kata "Metode" yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu; dan "Logos" yang artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi, metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara saksama untuk mencapai suatu tujuan. (Achmadi, 2011)

Islamic studies (studi Islam) merupakan salah satu studi saintifik atas Islam. Studi Islam dimaksudkan sebagai upaya pengembangan keilmuan agama Islam. Di dalam studi Islam (Islamic studies), hal pertama yang harus dipertegas adalah konotasi dan denotasi agama Islam itu sendiri, apakah sebagai doktrin absolut atau sebagai sebuah realitas empirik yang relatif. (Bakri, 2014). Jadi secara sederhana dapat dikatakan sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. Dengan perkataan lain “usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik ajaran-ajarannya, sejarahnya maupun praktek-praktek pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari sepanjang sejarahnya. (Rosihon, 2009: 25)

Metodologi studi Islam adalah prosedur yang ditempuh secara ilmiah, cepat dan tepat dalam mempelajari Islam secara luas dalam berbagai aspeknya, baik dari segi sumber ajaran, pemahaman terhadap sumber ajaran maupun sejarahnya. Dalam metodologi Studi Islam terdapat prosedur ilmiah, sebagai ciri pokoknya, yang membedakan dengan studi Islam lainnya yang tanpa metodologi. (Hula, 2020: 1)

b)     Pendekatan Bahasa Arab

Istilah pendekatan berarti proses, perbuatan, cara mendekati usaha dalam rangka penelitian untuk mengadakan hubungan langsung dengan orang yang diteliti, metode- metode untuk mencapai pengertian tertentu masalah penelitian. (KBBI, 2008:218). Pendekatan ada kalanya disamakan dengan metode, lebih lanjut dijelaskan bahwa secara etimologis pendekatan berasal dari kata appropio, approach, yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek, sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan data. (Ratna, 2004)

Jadi pendekatan bahasa arab adalah cara yang digunakan dalam pengkajian dengan menggunakan bahasa arab, dalam hal ini adalah pengkajian tentang islam.

2.      Metode

Metode pengkajian ini menggunakan metode deskrptif-analisis. Metode ini menggunakan contoh temuan masalah yang dianalisis untuk memberikan gambaran terkait penggunaan kaidah-kaidah bahasa arab dalam menerjemahkan dan memahami kata dalam Al-Qur’an.

3.      Temuan

Tulisan ini membahas pesan yang tengah viral disalah satu jejaring sosial (WhatsApp) yaitu Pembahasan kata Qorna (قرن) yang terdapat dalam Qs. Al-Ahzab ayat 33. Dalam pesan yang belum diketahui sumbernya itu telah mengaitkan kata Qorna (قرن) dalam ayat tersebut dengan salah satu peristiwa yang terjadi saat ini yaitu wabah korona. Hal ini membuat penulis tertarik untuk menganalisis ayat tersebut. Apakah benar Qs.Al-Ahzab ayat 33 merupakan gambaran tentang virus korona?

 

4.      Tujuan

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang pendekatan bahasa arab sebagai salah satu pendekatan penting dalam studi islam.

5.      Manfaat

Tulisan ini diharapkan dapat membantu memberikan gambaran kepada para pembaca terkait perlunya pendekatan bahasa arab sebagai syarat mutlak untuk memahami Al-Qur’an dalam meminimalisir terjadinya kekeliruan. Sehingga dapat memberikan pemahaman yang jelas dan utuh tentang islam.

 

B.     PEMBAHASAN

Bagian ini akan membahas tentang, kedudukan kaidah bahasa arab dalam studi Islam dan kaidah-kaidah dalam bahasa arab. Namun dikarenakan kaidah bahasa arab sangatlah banyak maka penulis hanya akan memberikan sedikit rincian tentang kaidah Isim Fi’il yang berfungsi sebagai unsur penting dalam tata bahasa arab serta konteks-konteks dalam bahasa arab. Selain itu pada bagian ini juga akan diuraikan hasil analisis terhadap Qs .Al-Ahzab ayat 33 sebagai gambaran bahwa penguasaan bahasa arab sangatlah penting unutk memahami sebuah ayat.

 

1.      Kedudukan Kaidah Bahasa Arab dalam studi islam

Kaidah adalah rumusan asas yang menjadi hukum, aturan yang sudah pasti, patokan, dalil (dl matematika) (KBBI, 2008: 602), sedangkan dalam bahasa Arab diartikan ‚asas/pondasi jika ia dikaitkan dengan bangunan, dan ia berarti tiang jika dikaitkan dengan kemah. (Shihab, 2013: 6-7), Sementara dalam pengertian istilah, ditemukan beberapa pengertian. Diantaranya adalah ketetapan yang dapat diterapkan pada kebanyakan bagian-bagiannya. (Shihab, 2013: 8). Jadi kaidah bahasa arab dapat diartikan sebagai seluruh aturan-aturan dalam bahasa arab yang digunakan untuk membantu penerjemahan dalam Al-Qur’an.

Allah swt berfirman dalam Qs. Az-Zukhruf ayat 3,

ﱵ ﱶ ﱷ ﱸ  ﱹ ﱺ ﱻ

Artinya: “Sesungguhnya kami menjadikannya (yakni Kalam Allah) berupa al-Qur’an yang berbahasa Arab agar kamu dapat memahami (pesan-pesannya)”. (Qs. Az-Zukhruf (43) :3)

Ayat diatas menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa arab, hal ini menunjukkan bahwa kita memiliki potensi untuk memahami Kalam Allah yang berahasa Arab itu dengan perangkat beserta ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bahasa Arab. (Shihab, 2013: 45)

Diantara kesalahan-kesalahan dalam mentafsirkan Al-Qur’an dan kesalahan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an serta penyimpangan dalam memahami teks-teks keagamaan adalah tidak memiliki kemampuan dalam membaca, menulis, memahami dan mempraktikkan bahasa Arab, tidak mengetahui struktur atau gramatikal dalam bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainya. Kemampuan bahasa Arab dipandang hal yang penting untuk memahami dan menafsirkan Al-Qur’an. Para ulama memberikan syarat bahwa untuk menafsirkan Al-Qur’an seseorang harus menguasai bahasa arab dengan baik dan benar. Sebagaimana perkataan Mujahid bahwa tidak diperbolehkan bagi orang yang beriman berbicara tentang ayat Al-Qur’an (menafsirkannya) kecuali orang tersebut menguasai bahasa arab. Para ulama telah memperingatkan dampak penafsiran yang dilakukan orang yang tidak berbahasa Arab dan juga tidak punya pengetahuan akan bahasa Arab, ataupun meremehkan kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa Arab. Imam Syafi’i menandaskan ketidaktahuan manusia atas bahasa Arab mengakibatkan perselisihan dan perbedaan. (Dewi, 2016)

Dari uraian tersebut, dapat diketahui bahwa pentingnya kaidah kebahasaan dalam studi islam. Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman hidup jika kita memahaminya dengan benar dan jelas, maka dari itu kadiah bahasa arab menjadi syarat mutlak dalam penerjemahan Al-Qur’an.

 

 

 

2.      Isim (اسم) / Kata Benda

Isim adalah kata benda yang menunjukkan benda, nama, sifat dan tempat. (Rahman, dkk, 1090: 3)

a)      Macam-macam Bentuknya, yakni muzakkar (مُذَكَّرٌ) dan muannas (مُؤَنَّثٌ). Masing-masing memiliki pengganti nama dan ditunjuk dengan jenisnya; Muzakkar atau Muannas.

b)     Bilangannya, yakni tunggal, dual dan jamak/plural. Yang berbentuk jamak bermacam-macam juga, ada jamak yang menunjuk muzakkar, ada juga muannas. Keduanya tidak berubah bentuk dasarnya. Ada juga jamak yang berubah dan ini dinamai Jama’ Taksir (جمع تكسير)

c)      Sifatnya, yakni Ma’rifah (معرفة)/difinite atau Nakirah (نكرة)/indifinite. Ma’rifah adalah nama yang menunjuk kepada sesuatu yang telah diketahui/tertentu, seperti kata Muhammad (محمد) at-Tilmidz (التلميذ)/Murid itu, sedang Nakirah adalah lawannya, seperti kata Tha’ir (طاءر)/burung, Tilmidz (تلميذ) tanpa alif dan lam/murid.

Satu nama dinilai berbentuk ma’rifah apabila ia merupakan salah satu dari hal-hal berikut:

1)      Dhama’ir (ال ضماءر)/Noun/Penganti nama, seperti Huwa (هو)/Dia (muzakkar) atau Hiya (هي)/Dia (muannas), dan sebagainya.

2)      Alam (علم)/Tanda, yakni kata yang telah dikenal luas bagi sesuatu, seperti nama kota yang terkenal, Jakarta, Mekkah.

3)      Ism al-Isyarah (إسم الإشارة), yakni lafazh yang mengandung makna isyarat, seperti Hadza (هذا)/Ini, atau Dzalika (ذلك)/Itu.

4)      Isim Maushul (إسم موصول), seperti al-Ladzina (الذين) atau al-Ladzi (الذي)/Yang.

5)      Al-Muhalla bi’al (المحلى بأل), yakni yang awal lafazhnya dimulai degan al (ال), seperti kata ar-Rajul (الرجل).

6)      Al-Mudhaf ila al-Ma’rifah (المضاف الى المعرفة), yakni kata yang disandarkan kepada sesuatu yang bersifat ma’rifat , seperti Kitab Musa (كتاب موسى)/Kitabnya Nabi Musa.

7)      Yang disertai dengan kata yang mengandung makna panggilan, seperti ya (يا), dan sebagainya.

d)     Asal usul kata, ini bisa Musytaq (مشتق) atau Jamid (جامد). Yang Jamid lafazhnya asli, tidak terambil dari satu kata sebelumnya. Ini bisa menunjuk kepada person, seperti kata syams (شمس), ardh (ارض), Insan (إنسان); bisa juga menunjuk sifat sesuatu, seperti kata syajaah (شجاعة)/keberanian. Sedang yang musytaq adalah yang memiliki akar kata dan darinya dibentuk kata selainnya untuk menunjuk sesuatu atau memberi sifat bagi sesuatu. Ini mencakup:

1)      Ism al-Fa’il (إسم فاعل) yang menunjuk pelaku, seperti kata Mukrim (مكرم)/sosok yang memberi kehormatan/hadiah.

2)      Ism al-Maf’ul (إسم مفعول) yang menunjuk objek, seperti kata Mukram (مكرم)/sosok yang mendapat/diberi penghormatan.

3)      Ism al-Tafdhil (إسم تفضيل) yang menunjuk superioritas, seperti afhdhal al-Khalq (أفضل الخلق)/sebaik-baik makhluk.

4)      Ism az-Zaman (إسم الزمان) yang menunjuk waktu, seperti kata mau’id (موعد)/waktu yang diperjanjikan.

5)      Ism al-Makan (إسم المكان) yang menunjuk tempat, seperti kata ma’radh (معرض)/arena pameran.

6)      Ism al-Alat (إسم الآلة) yang menunjuk alat, seperti kata Miftah (مفتاح)/alat pembuka/kunci.

7)      Ash-Shigat al-Mubalaghah (الصيغة المبالغة), fomat intensitas, yang menunjuk pelaku melakukan sesuatu berkali-kali/dalam kadar yang banyak. Ini bentuknya banyak, bisa seperti syakur (شكور) atau Hadzir (حذر), dan lain-lain.

8)      Ash-Shifat al-Musyabbahah (الصفة المشبهة), yakni ajektif yang dibentuk dari kata yang tidak membutuhkan objek untuk kemantapan sifat tersebut pada pelaku, seperti kata karim (مقصور)/sosok yang sangat dermawan.

e)      Akhir katanya, Maqshur (مقصور), Manqush (منقوص), dan Mamdud (ممدود). Bahasan tentang bagian ini banyak berkaitan dengan akhir satu lafazh yang menunjuk pelaku dan cara penulisannya. (Sihab, 2013: 46-53 )

 

3.      Fi’il (فعل)

Fi’il adalah kata yang menunjukkan terjadinya suatu pekerjaan dalam waktu tertentu (telah, sedang, akan). Biasanya di sebut juga dengan kata kerja. (Agustiar, 2015).

Tanda-tanda fi’il yaitu :   قَدْ ,   س (sin) ,  سَوْفَ تَأُ التَأِنيْثِ السَّاكِنَة , 

·         قد  masuk kepada fiil madhi dan mudhari. Bila masuk kepada fi’il madhi ma’nanya litahqiq (sungguh/benar-benar). Contoh     قَدْ حَفِظَ  sungguh telah hapal.   قَدْ سَمِعَ  benar benar telah mendengar. Bila masuk kepada fi’il mudhari, maknanya kadang-kadang. Contoh  قَدْ  يَحْضُرُ   kadang-kadang hadir.            

·         س   dan سوف  masuk kepada fi’il mudhari. Apabila fi’il mudhari sudah dimasuki   س , سوف  maka hanya menunjukkan waktu yang akan dating saja. Bedanya     س   menunjukkan waktu yang akan datang tapi sudah dekat, sedangkan  سَوْفَ menunjukan waktu yang masih jauh.       

·         تأ التأنيث الساكنة   (ta yang sukun dan menunjukkan wanita) masuk hanya kepada fi’il madhi saja.

 

Adapun macam-macam fi’il ialah Macam Fi’il ada tiga, yaitu :

a)       Fi’il Madhi (فِعْلٌ مَاضٍ ) yaitu kata kerja yang menunjukkan waktu lampau.

Contoh : .نَزَل   (Telah turun), حَفِظَ  ( telah hafal), كَرُمَ ( telah mulia )                    

b)      Fi’il Mudhari  (  فِعْلٌ مُضَارِعٌ ) yaitu kata kerja yang menunjukkan waktu sekarang atau akan datang, dan diawali oleh salah satu huruf mudhari yang empat  ن , ي , ت أ

Contoh:      يَنْزِلُ , تَنْزِلُ , نَنْزِلُ , أَنْزِلُ     يَحْفَظُ, تَحْفَظُ, نَحْفَظُ, اَ حْفَظُ  يُكْرِمُ , تُكْرِمُ , نُكْرِمُ ,  اُكْرِمُ 

c)       fi’il amar (فِعْلُ الْأَمْرِ ) kata kerja perintah.

Contoh   اِنْزِلْ ,  اِحْفَظْ  ,  اَكْرِمْ  

d)        Fiil nahyi (فِعْلُ النَّهْيِ ) kata kerja yang menunjukkan larangan.

Contoh لَاتَضْرِبْ (jangan memukul). Fi’il nahyi dibuat dari fi’il mudhari yang ditambah لا yang berarti larangan. ( Effendi, 2010: 3)

 

4.       Konteks-konteks dalam bahasa Arab

Konteks ialah bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna (KBBI, 2008: 728). Menurut Burdi (dikutip dalam Dewi, 2016) kontek-konteks dalam bahasa arab yang harus diperhatikan oleh seorang pengkaji Al-Qur’an adalah sebagai berikut :

a)      Konteks yang berhubungan dengan tempat  سياق المكان (siyâq al-makâny) yaitu konteks ayat dalam sebuah surat dan kedudukan apakah datang sebelumnya ataupun sesudahnya, ataupun dengan memperhatikan posisi ayat dalam sebuah surat; posisi kalimat dalam sebuah ayat.  Konteks tersebut harus diperhatikan sehingga tidak memotong antara ayat maupun kalimat sebelum dan sesudahnya.

b)      Konteks zaman atau waktu سياق الزمان (siyâq al-zamany) memperhatikan sebuah ayat dengan melihat konteks turunnya ayat tersebut, yaitu konteks ayat di antara ayat-ayat lainnya sesuai dengan urutan turunnya.

c)      Konteks tematik سياق الموضوعي (siyâq al-maudhû’i), yaitu mempelajari ayat Al-Qur’an yang dikumpulkan dalam satu tema, baik berupa tema-tema umum seperti kisah-kisah Qurani ataupun  perumpamaan yang ada dalam Al-Qur’an dan hukum-hukum fiqih, juga tema-tema khusus seperti kisah khusus seorang nabi ataupun sebuah hukum, yang dapat ditelusuri di dalam Al-Qur’an secara keseluruhan.

d)      Konteks tentang maksud dan tujuan ayat-ayat al-Qur’an سياق المقاصد (siyâq al-maqâshidy).

e)      Konteks sejarah سياق التاريخ  (siyâq at-târ î khy) dengan melihat konteks kejadian sejarah masa lampau yang telah diceritakan di dalam Al-Qur’an saat diturunkan (asbabun nuzul) dan kejadian-kejadian pada masa sekarang. Al-Qur’an diturunkan selalu berdampingan dengan konteks turunnya ayat-ayat Al-Qur’an.

f)       Konteks kebahasaan سياق اللغوي (siyâq al-lughawy), yaitu mempelajari teks Al-Qur’an dengan melihat hubungan (korelasi) satu lafadz dengan lafadz yang lainnya dengan menggunakan beberapa instrumen untuk menghubungkan antara lafadz-lafadz tersebut. Korelasi tersebut melahirkan makna semantik baik secara keseluruhan ataupun hanya sebagian. Dalam hal ini adalah kebahasaan yang dimaksud adalah bahasa Arab.

 

5.      Analisis Qs. Al-Ahzab ayat 33

a)      Temuan Masalah

TEMUAN

MASALAH

Isi Pesan Whatsapp :

 

MASYAALLAH INI KAH ARTI QORONA DALAM QUR’AN ?

Ternyata gambaran tentang virus corona sudah ada dalam Qur’an

 

Ini ada disurat Al-Ahzab ayat 33

Silakan dibuka bagi yang tidak berhalangan

 

Saya jadi penasaran dengan arti Qarana, saya sengaja membuka kamus al-Qur’an. Saya dapati lafadz Qarana ada di QS. Al-ahzab:33. Saya jadi tercengang ketika melihat potongan ayat tersebut :

  ﱧ ﱨ ﱩ ﱪ ﱫ ﱬ ﱭ  ﱰ ﱱ ﱲ ﱳ ﱴ ﱵ  ﱸ ﱹ ﱺ ﱻ ﱼ ﱽ ﱾ ﱿ  ﲀ ﲁ

 

Artinya : Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliyah dahulu, dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."

Pesannya sangat jelas bahwa lafadz Qarana mengandung arti perintah untuk tinggal. Tinggalnya dimana? Dirumah-rumahmu, dikeluargamu, karena kata Nabi rumahku adalah sorgaku. Rumah kalian adalah sorga kalian semua. Ciptakan sorga di keluarganya masing-masing. Coronavirus menggiring kembalinya kesadaran bahwa yang paling hakekat dalam kehidupan adalah keluarga. Sehingga Nabi sendiri memberi parameter kebaikan manusia diukur dari kebaikannya kepada keluarganya

خَيْركُمْ خَيْركُمْ لِأهْلِهِ وَاَنَا خَيْركُمْ لِأهْلِى

"Sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku (Rasulullah) orang yang terbaik diantara kalian kepada keluargaku

Seakan Allah sedang berkata, “wahai manusia modern, janganlan cari kepuasan di gedung-gedung mewah yang menyediakan berbagai macam kamuflase kesenangan yang tak sejati, kebahagiaan itu bukan karir dan gajimu yang selalu tak memuaskanmu, karena selama ini yang kau kejar sebagai kenikmatan itu hanyalah fatamorgana dunia yang kalian anggap kenikmatan dan keindahan (itu semua perilaku jahiliah). Padahal sesungguhnya sorga itu ada di keluargamu, ada di rumahmu masing-masing yang bisa kau bangun dan kau ciptakakan. Kembalilah kepada keluargamu masing-masing dan berbahagialah atas berkumpulnya keluarga.”

Dalam ayat ini kita dapat mentadaburi bahwa Corona yang diturunkan ini sejatinya untuk membersihkan manusia dari dosa, membersihkan sebersih-bersihnya dari segala hal yang sifatnya kamuflase, talbis, menuju kesejatian hidup.

Apakah benar kata Qorna (berdiam diri) dalam Qs.Al-Ahzab ayat 33 ini adalah gambaran tentang dari virus corona?

 

 

b)     Penjelasan atau Uraian Masalah

Kata Qorna (قَرْنَ) yang menjadi temuan masalah pada pembahasan ini didapatkan dari isi pesan singkat di jejaring sosial (WhatsApp) yang memberikan penerjemahan Qs. Al-Ahzab ayat 33, yaitu Mengaitkan peristiwa tentang virus korona yang  tengah mewabah saat ini dengan surat Al-Ahzab ayat 33, karena pada ayat tersebut memiliki sedikit kesamaan bunyi yaitu antara Qorna (قَرْنَ) dan korona. Berkaitan dengan hal ini terdapat tiga masalah yang menjadi sorotan kekeliruan dalam penerjemahan pada pesan tersebut yaitu sebagai berikut :

1)      Dari segi Kaidah kebahasaan diantara ilmu sorof.

Kata Qorna (قَرْنَ) adalah fi’il amr  yang menunjukkan jama’ muannats (kata kerja perintah untuk jama perempuan ) diambil dari fiil madhi (akar kata) Qorro (قَرَّ) yang  asalnya adalah Qoriro (قَرِرَ) mengikuti timbangan فَعِلَ يَفْعَلُ اِفْعَلْ maka menjadi. قَرَّ يَقَرُّ اِقْرَرْ     . قَرَّ fiil madhi   يَقّرُّ fiil mudhari  اِقْرَرْ fiil amar. Kata  اِقْرَرْ masih berbentuk tunggal jika dijamakan kepada jama muannats menjadi   اِقْرَرْنَ . Untuk lebih jelas lihat tashrifan (perubahan bentuk fiil amar) berikut ini :

اِقْرَرْ   اِقْرَرَا   اِقْرَرُوا  اِقْرَرِيْ   اِقْرَرَا  اِقْرَرْنَ

Bagaimana kata  اِقْرَرْنَ menjadi قَرْنَ ? Hal ini terjadi setelah  melalui pengi’lalan  yaitu harakat ro (رَ)  dipindahkan ke huruf qo (قَ ) ,maka jadi اِقَرْرْنَ di sini terjadi bertemu dua sukun pada huruf رَ maka salah satu huruf رَ (ro) harus di buang, maka menjadi  ) اِقَرْنَikorna(, kemudian hamzah washal dibuang karena sudah cukup dengan harakat qof. sehingga menjadi ) قَرْنَkorna(. Jadi huruf ن (nun( pada kata قَرْنَ dalam ayat tersebut adalah bukan huruf nun asli melainkan huruf tambahan. Menunjukkan nun jamak muannas.

 

2)      Dilihat dari kosa kata ( Mufrodat )

Berdasarkan penjelasan diatas, huruf nun (ن) dalam kata قَرْنَ Al-Ahzab ayat 33 ini bukanlah nun (ن) asli. Maka arti kata berdiam diri pada ayat tersebut berasal dari kata Qorro (قَرَّ). Jadi orang yang mengaitkan kata Qorna  (قَرْنَ) dengan virus korona saat ini hanya didasarkan atas kesamaan bunyi, padahal jika dilihat dari segi penulisannya, orang arab menulis virus corona dengan كورونا .

Adapun arti dari kata Qorona قَرَنَ jika nun (ن) nya asli dan merupakan fi’il madhi mempunyai arti menjaadikan sepasang, menggandeng, menyambung, menghubungkan. (Munawwir, hal.1197) . Kata yang mirip lainya adalah  Qornun قَرْنٌ  yang artinya masa atau zaman. (Munawwir, hal. 1197). Dari uraian diatas membuktikan bahwa kata dengan bunyi yang sama belum tentu memliki arti yang sama.

 

3)      Dilihat dari konteks tujuan dan urutan ayat

Dalam surat Al-Ahzab ayat 33 merupakan perintah untuk tetap berdiam diri dirumah. Siapa yang diperintahkan untuk berdiam diri dirumah? Yaitu istri-istri nabi berdasarkan ayat sebelumnya yaitu Al-Ahzab ayat 32.

ﱑ ﱒ  ﱓ ﱔ ﱕ ﱖ ﱗ ﱘ ﱚ ﱛ ﱜ  ﱝ ﱞ ﱟ ﱠ ﱡ ﱢ ﱣ ﱤ ﱥ

Artinya: “Wahai Istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah Kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perbuatan yang baik.” (Qs. Al-Ahzab ayat 33)

Hal ini menunjukkan jika orang yang mengaitkan Qs.Al-Ahzab ayat 33 dengan peristiwa saat ini tidak melihat konteks tujuan dari ayat yang dimaksud serta tidak melihat konteks urutan ayat. Berdasarkan ayat sebelumnya perintah berdiam diri ditujukkan kepada istri-istri Nabi, hal ini dikarenakan istri-istri Nabi berbeda dengan perempuan lainnya. Kalauhlah perintah berdiam diri itu ditujukkan untuk seluruh manusia maka seruan pada ayat 32 berbunyi yaa ayyuhannas (يَا يها الناس) bukan ( يانساءالنبي).

Jadi berdasarkan penjelasan diatas, Qs. Al-Ahzab ayat 33 tidak ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi saat ini, perintah untuk berdiam diri dirumah saat ini bukan hanya ditujukkan untuk perempuan saja melainkan diperintahkan untuk semua orang dan perintah berdiam diri sekarang disebabkan oleh virus.

 

C.    Penutup

Dari uraian diatas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :

1.      Kesimpulan

a.       Metodelogi studi islam adalah cara yang digunakan untuk mempermudah pengkajian islam. Pengkajian islam tidak bisa dilakukan hanya dengan satu pendekatan atau satu metode saja, melainkan membutuhkan beberapa gabungan pendekatan ilmiah dan doktriner.

b.      Pendekatan dalam pengkajian Islam harus sesuai dengan objek yang dikaji. Pendekatan bahasa Arab sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pengkajian sumber hukum Islam yang mempunyai objek kajian berupa scripture (naskah atau teks). Oleh karena itu, Al-Qur’an sebagai naskah keagamaan dapat dikaji dan dinalisis melalui pendekatan bahasa Arab ini sehingga menghasilkan pemahaman yang benar dan tepat.

c.       Kedudukan kaidah bahasa arab sangatlah penting dalam studi islam, diantara kaidah-kaidah bahasa arab adalah kadiah nahwu sorof. Kaidah ini sangat penting dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.

d.      Hasil dari analisis Qs. Al-Azhzab ayat 33 yang dikaitkan dengan peristiwa saat ini melalui pesan WhatsApp itu ditemukan tiga masalah yang menjadi sorotan kekeliruan yaitu: Orang yang menulis pesan tersebut kurang memahami kaidah-kaidah bahasa arab yakni dari segi kaidah kebahasaan, kosakata (mufrodat) dan tidak memperhatikan konteks tujuan ayat serta urutan ayat.


 

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, A. & N. (2011). Teori Metodologi Penelitian. Teori Metodologi Penelitian.

Anwar, Rosihon. (2009). Pengantar Studi Islam. Bandung, pustaka setia.

Azimi, Z. (2004). Studi Islam Komprehensif. Mentari.

Bakri, S. (2014). Pendekatan-pendekatan dalam Islamic Studies. DINIKA Journal of Islamic Studies12(1).

Dewi, I. S. (2016). Bahasa Arab dan Urgensinya dalam Memahami Al-Qur’an. Kontemplasi.

Effendi, Wawan. (2010). Pokok-pokok Nahwu sorof. DIKTAT Santri.

Hula, I. R. N (2020). Metodelogi Studi Islam: (Orientasi Umum, Signifikansi, Objek dan Perkembangannya).

Katsir, Ibnu. "Tafsir Ibnu Katsir jilid 1”. Syirkah Nurasyiah

KBBI. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). In Departemen Pendidikan Nasional

Kutha Ratna, N. (2004). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Munawwir, A.W.  Kamus Arab Indonesia

Rahman, Salimuddin A. dkk. (1990). Tata Bahasa Arab Untuk Mempelajari Al Qur’an (Bandung: Sinar Baru)

Shihab, M. Q. (2013). Kaidah tafsir. Lentera Hati Group.