METODOLOGI STUDI ISLAM
( Model Studi Islam
Dengan Pendekatan Bahasa Arab )
ZAKIYAH NURBAYANI
e-Mail : kikizakiyah2203@gmail.com
Abstrak:
Seiring
dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka semakin
banyak pula persoalan baru yang dihadapi manusia. Kehadiran islam sebagai
penyelamat sangat diharapkan untuk menjawab setiap problematika yang ada. Namun
islam tidak bisa menjawab semerta-merta persoalan tersebut tanpa ada upaya
untuk memahami dan mempelajarinya. Ruang lingkup ajaran islam sangatlah luas maka dibutuhkan suatu metode
yang tepat dalam mempelajari islam. Seluruh ajaran islam bersumber dari Al-Qur’an
maka salah satu cara yang digunakan untuk mempelajari islam adalah dengan salah
satunya memahami Al-Qur’an. Al-Qur’an yang Allah turunkan menggunakan bahasa
Arab, sehingga perlu adanya penguasan terhadap keilmuan atupun kaidah-kaidalah
dalam bahasa arab untuk menafsirkan dan memahami Al-Qur’an. Pengkajian dalam
tulisan ini menggunakan metode deskriptif-analisis terhadap Qs. Al-Ahzab ayat
33. Ayat ini menjadi bahan pembicaran di jejaring sosial media karena dikaitkan
dengan peristiwa yang terjadi saat ini yaitu Virus Corona. Adapun hasil yang
didapatkan dari analisis ialah adanya kesalahan dalam memahami kosa kata,
kaidah bahasa dan konteks dari ayat tersebut. Pengkajian ini bertujuan untuk memberikan
gambaran tentang perlunya pendekatan bahasa arab sebagai syarat mutlak untuk memahami
Al-Qur’an dan meminimalisir terjadinya kekeliruan.
Kata Kunci: Metodologi,
studi islam, Al-Qur’an, Bahasa Arab
Abstrak:
Along with the
development of science and technology progress, then more life problems
are faced by humans. The presence of
Islam as a savior is expected to answer any existing problematics situation.
However, Islam cannot just answer that problem without any effort to understand
and study it because the scope of the teachings of Islam is very broad.
Therefore, we need an appropriate method in studying Islam. As it is known, all
the teachings of Islam are sourced from the Qur'an, so one of the ways used to
study Islam is by understanding the Qur'an. In order to able to understand and
interpret the contents of Al-Qur'an which Allah sent down using Arabic, it is
necessary to master scientific knowledge and rules of Arabic. The study uses a
descriptive-analysis method toward Qs. Al-Ahzab verse 33. This verse becomes a
main issue of discussion in social media networks because it is associated with
an epidemic that occurs at this time namely Corona Virus. The result obtained
from the analysis is an error in understanding the vocabulary, language rules
and context of the verse. This study aims to provide an overview of the need
for an Arabic language approach as an absolute requirement to understand the
Qur'an and minimize the occurrence of errors.
Key Words: Methodology,
Islamic study, Al-Qur’an, Arabic Language
A.
PENDAHULUAN
Pengkajian dalam
islam sebenarnya tidak bisa dilakukan dengan satu metode atau satu pendekatan
saja, karena ruang lingkup ajaran Islam sangatlah luas. Islam bukan hanya
berbicara tentang bagaimana hubungan antara manusia dengan Tuhan, islam bukan
hanya berbicara tentang solat, zakat, puasa atau ibadah lainnya. Tetapi Islam
mengatur semua aspek kehidupan, bagaimana hubungan antar sesama manusia bahkan
dengan alam atau lingkungan. Maka dalam pengkajiannya diperlukan pula berbagai
pendekatan atau metode yang sesuai dengan objek yang dikaji. Kemudian untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dan sempurna tentang islam sebenarnya
banyak objek yang harus dikaji sepeti Al-Qur’an, Hadis, sejarah nabi, Theologi
(ilmu tentang ketuhanan) dan lain sebagainya yang berkaitan dengan islam tentunya dengan
menggunakan metode pengkajian yang tepat.
Al-Qur’an adalah salah satu objek pengkajian
dalam islam. Al-Qur’an merupakan sumber hukum pertama dalam islam
yang digunakan sebagai pusat rujukan umat islam dalam menjalankan roda
kehidupan, baik rujukan sebagai ilmu pengetahuan, tutunan ibadah ataupun
sebagai jawaban untuk persoalan-pesoalan baru yang dihadapi umat manusia. Sebagaimana
Hal ini ditegaskan Firman Allah SWT dalam Qs Al-Baqarah ayat 185,
ﲇ ﲈ ﲉ ﲊ ﲋ ﲌ ﲍ ﲎ
ﲏ ﲐ ﲑ ﲒﲓ
Artinya : “Bulan
ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia dan penejelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara
yang hak dengan yang bathil. )Qs.
Al-Baqarah ayat 185(
Ibnu Katsir menjelaskan: “Ini adalah
pujian Allah terhadap Al-Qur’an, bahwa Ia menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk
bagi para hamba yang beriman kepada al-Qur’an, membenarkan serta mengikuti
tuntunan Al-Qur’an. Sedangkan بَيِّنَاتٍ /bayyinaat/ artinya sebagai dalil
dan hujjah yang jelas, terang dan gamblang bagi orang yang memahami dan mentadabburinya,
sehingga menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar sebuah petunjuk yang
menafikan kesesatan dan sebuah pedoman yang menafikan penyimpangan. Al-Qur’an
juga diturunkan sebagai pembeda antara haq dan batil, antara halal dan haram” (Tafsir
Ibni Katsir, 1/215).
Dari tafsir tersebut sudah sangat
jelas terlihat bagaimana fungsi Al-Qur’an bagi manusia, yaitu sebagai petunjuk
dan pembeda, maka Al-Qur’an akan selalu dijadikan pusat rujukan disetiap saat. Hal
tersebut membuktikan bahwa Al-Qur’an menempati posisi sentral dalam studi
islam.
Untuk mendapatkan
pemahaman yang jelas tentang Al-Qur’an maka perlu pemahaman
dalam menguasai bahasa yang menjadi penuturnya yaitu bahasa Arab. Pemahaman
yang hanya mengandalkan terjemahan hanya akan menghasilkan pemahaman yang bias
dan pemahaman yang dangkal, sehingga tidak akan mampu menangkap makna penting
yang justru dibutuhkan.
Banyak hal yang bisa dicapai oleh penerjemahan, sebab penerjemahan
adalah penyederhanaan. Padahal, Al-Qur’an tidak sesederhana penerjemahannya.
Sebagus apapun sebuah terjemahan, tetap tidak akan menyajikan semua yang
terkandung dalam bahasa aslinya. Terlebih lagi Al-Qur’an merupakan kitab suci
yang sangat mendalam, bukan hanya menyimpan makna lahir tetapi juga makna batin.
Selain itu, pengaruh bahasa ibu dan ketidaktahuan dalam kaidah-kaidah bahasa
arab saat menerjemahkan kata dapat memicu kekeliruan dalam memahami maksud kata
yang sesungguhnya. Maka dari itu pendekatan yang bisa dilakukan untuk memahami atau
memepelajari Al-Qur’an sebagai sumber ajaran umat islam yaitu dengan pendekatan
bahasa Arab. Karena untuk memahami sesuatu, kita harus memahami konteks yang
mengitari sesuatu tersebut, dan Bahasa Arab dalam Al-Qur’an jelas memiliki
konteksnya tersendiri.
Dalam tulisan
ini, penulis hanya akan fokus membahas salah satu pendekatan yang sangat
penting dalam studi islam yaitu pendekatan bahasa arab dengan objek yang dikaji
adalah Al-Qur’an.
1.
Studi Teori
a)
Metodologi Studi Islam
Metodologi ibarat kunci yang bisa membuka pintu rumah, pintu
mobil, atau pintu lemari. Tanpa kunci kita tidak akan mampu membuka pintu rumah
dan melihat isinya. Tanpa kunci kita tidak bisa menjalankan mobil dan
mengantarkan kemana arah yang kita tuju. Tanpa metodologi kita tidak mampu
melihat isi ajaran Islam dengan baik. (Azimi, 2004) Metodologi berasal dari kata "Metode" yang
artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu; dan "Logos" yang
artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi, metodologi artinya cara melakukan sesuatu
dengan menggunakan pikiran secara saksama untuk mencapai suatu tujuan. (Achmadi, 2011)
Islamic
studies (studi
Islam) merupakan salah satu studi saintifik atas Islam. Studi Islam dimaksudkan
sebagai upaya pengembangan keilmuan agama Islam. Di dalam studi Islam (Islamic
studies), hal pertama yang harus dipertegas adalah konotasi dan denotasi
agama Islam itu sendiri, apakah sebagai doktrin absolut atau sebagai sebuah
realitas empirik yang relatif. (Bakri, 2014). Jadi secara
sederhana dapat dikatakan sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang
berhubungan dengan agama Islam. Dengan perkataan lain “usaha sadar dan
sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang
seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik
ajaran-ajarannya, sejarahnya maupun praktek-praktek pelaksanaannya secara nyata
dalam kehidupan sehari-hari sepanjang sejarahnya. (Rosihon, 2009: 25)
Metodologi
studi Islam adalah prosedur yang ditempuh secara ilmiah, cepat dan tepat dalam mempelajari Islam secara luas dalam berbagai
aspeknya, baik dari segi sumber ajaran, pemahaman terhadap sumber ajaran maupun
sejarahnya. Dalam metodologi Studi Islam terdapat prosedur ilmiah, sebagai ciri
pokoknya, yang membedakan dengan studi Islam lainnya yang tanpa metodologi. (Hula,
2020: 1)
b)
Pendekatan Bahasa Arab
Istilah pendekatan berarti proses, perbuatan, cara mendekati usaha dalam rangka penelitian untuk mengadakan
hubungan langsung dengan orang yang diteliti, metode- metode untuk mencapai pengertian tertentu masalah penelitian.
(KBBI, 2008:218). Pendekatan ada kalanya disamakan
dengan metode, lebih lanjut dijelaskan bahwa secara
etimologis pendekatan berasal dari kata appropio, approach, yang diartikan
sebagai jalan dan penghampiran. Pendekatan didefinisikan
sebagai cara-cara menghampiri objek,
sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan,
menganalisis, dan menyajikan data. (Ratna, 2004)
Jadi pendekatan bahasa arab adalah
cara yang digunakan dalam pengkajian dengan menggunakan bahasa arab, dalam hal
ini adalah pengkajian tentang islam.
2.
Metode
Metode
pengkajian ini menggunakan metode deskrptif-analisis. Metode ini menggunakan
contoh temuan
masalah yang dianalisis untuk memberikan gambaran terkait penggunaan
kaidah-kaidah bahasa arab dalam menerjemahkan dan memahami kata dalam Al-Qur’an.
3.
Temuan
Tulisan
ini membahas pesan
yang tengah viral disalah satu jejaring sosial (WhatsApp) yaitu
Pembahasan kata Qorna (قرن) yang terdapat dalam Qs. Al-Ahzab ayat 33.
Dalam pesan yang belum diketahui sumbernya itu telah mengaitkan kata Qorna
(قرن) dalam ayat tersebut dengan salah satu
peristiwa yang terjadi saat ini yaitu wabah korona. Hal ini membuat penulis
tertarik untuk menganalisis ayat tersebut. Apakah benar Qs.Al-Ahzab ayat 33
merupakan gambaran tentang virus korona?
4.
Tujuan
Tujuan
dari penulisan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang pendekatan bahasa
arab sebagai salah
satu pendekatan penting dalam studi islam.
5.
Manfaat
Tulisan
ini diharapkan dapat membantu memberikan gambaran kepada para pembaca terkait perlunya pendekatan bahasa arab sebagai syarat mutlak untuk memahami
Al-Qur’an dalam meminimalisir terjadinya kekeliruan. Sehingga dapat memberikan
pemahaman yang jelas dan utuh tentang islam.
B. PEMBAHASAN
Bagian
ini akan membahas tentang, kedudukan kaidah bahasa arab dalam studi Islam dan kaidah-kaidah
dalam bahasa arab. Namun dikarenakan kaidah bahasa arab sangatlah banyak maka
penulis hanya akan memberikan sedikit rincian tentang kaidah Isim Fi’il yang
berfungsi sebagai unsur penting dalam tata bahasa
arab serta konteks-konteks dalam bahasa arab. Selain itu pada bagian ini juga
akan diuraikan hasil analisis terhadap Qs .Al-Ahzab ayat 33 sebagai gambaran
bahwa penguasaan bahasa arab sangatlah penting unutk memahami sebuah ayat.
1.
Kedudukan Kaidah Bahasa Arab dalam
studi islam
Kaidah adalah rumusan asas yang
menjadi hukum, aturan yang sudah pasti, patokan, dalil (dl matematika) (KBBI,
2008: 602), sedangkan dalam bahasa Arab diartikan
‚asas/pondasi jika ia dikaitkan dengan bangunan, dan ia berarti tiang jika
dikaitkan dengan kemah. (Shihab, 2013: 6-7), Sementara dalam pengertian
istilah, ditemukan beberapa pengertian. Diantaranya adalah ketetapan yang dapat
diterapkan pada kebanyakan bagian-bagiannya. (Shihab, 2013: 8). Jadi kaidah bahasa arab dapat
diartikan sebagai seluruh aturan-aturan dalam bahasa arab yang digunakan untuk
membantu penerjemahan dalam Al-Qur’an.
Allah swt berfirman dalam Qs. Az-Zukhruf ayat 3,
ﭐﱵ ﱶ
ﱷ ﱸ ﱹ ﱺ ﱻ
Artinya: “Sesungguhnya
kami menjadikannya (yakni Kalam Allah) berupa al-Qur’an yang berbahasa Arab
agar kamu dapat memahami (pesan-pesannya)”. (Qs. Az-Zukhruf (43) :3)
Ayat diatas
menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa arab, hal ini menunjukkan
bahwa kita memiliki potensi untuk memahami Kalam Allah yang berahasa Arab itu dengan
perangkat beserta ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bahasa Arab. (Shihab, 2013:
45)
Diantara
kesalahan-kesalahan dalam mentafsirkan Al-Qur’an dan kesalahan dalam memahami
ayat-ayat Al-Qur’an serta penyimpangan dalam memahami teks-teks keagamaan
adalah tidak memiliki kemampuan dalam membaca, menulis, memahami dan
mempraktikkan bahasa Arab, tidak mengetahui struktur atau gramatikal dalam bahasa
Arab dan ilmu-ilmu lainya. Kemampuan bahasa Arab dipandang hal yang penting
untuk memahami dan menafsirkan Al-Qur’an. Para ulama memberikan syarat bahwa
untuk menafsirkan Al-Qur’an seseorang harus menguasai bahasa arab dengan baik
dan benar. Sebagaimana perkataan Mujahid bahwa tidak diperbolehkan bagi orang
yang beriman berbicara tentang ayat Al-Qur’an (menafsirkannya) kecuali orang
tersebut menguasai bahasa arab. Para ulama telah memperingatkan dampak
penafsiran yang dilakukan orang yang tidak berbahasa Arab dan juga tidak punya
pengetahuan akan bahasa Arab, ataupun meremehkan kaidah-kaidah yang ada dalam
bahasa Arab. Imam Syafi’i menandaskan ketidaktahuan manusia atas bahasa Arab
mengakibatkan perselisihan dan perbedaan. (Dewi, 2016)
Dari uraian tersebut, dapat diketahui bahwa
pentingnya kaidah kebahasaan dalam studi islam. Al-Qur’an berfungsi sebagai
pedoman hidup jika kita memahaminya dengan benar dan jelas, maka dari itu
kadiah bahasa arab menjadi syarat mutlak dalam penerjemahan Al-Qur’an.
2.
Isim (اسم) / Kata Benda
Isim adalah kata benda yang menunjukkan benda, nama, sifat
dan tempat. (Rahman, dkk, 1090: 3)
a)
Macam-macam Bentuknya, yakni muzakkar
(مُذَكَّرٌ) dan muannas (مُؤَنَّثٌ).
Masing-masing memiliki pengganti nama dan ditunjuk dengan jenisnya; Muzakkar
atau Muannas.
b)
Bilangannya, yakni tunggal, dual dan jamak/plural.
Yang berbentuk jamak bermacam-macam juga, ada jamak yang menunjuk muzakkar,
ada juga muannas. Keduanya tidak berubah bentuk dasarnya. Ada juga jamak
yang berubah dan ini dinamai Jama’ Taksir (جمع تكسير)
c)
Sifatnya, yakni Ma’rifah (معرفة)/difinite atau Nakirah
(نكرة)/indifinite. Ma’rifah
adalah nama yang menunjuk kepada sesuatu yang telah diketahui/tertentu, seperti
kata Muhammad (محمد) at-Tilmidz (التلميذ)/Murid itu, sedang Nakirah adalah lawannya, seperti kata
Tha’ir (طاءر)/burung, Tilmidz
(تلميذ) tanpa alif dan lam/murid.
Satu nama dinilai berbentuk ma’rifah apabila ia merupakan salah
satu dari hal-hal berikut:
1)
Dhama’ir
(ال ضماءر)/Noun/Penganti nama, seperti Huwa (هو)/Dia (muzakkar) atau Hiya (هي)/Dia (muannas), dan sebagainya.
2)
‘Alam
(علم)/Tanda, yakni kata yang
telah dikenal luas bagi sesuatu, seperti nama kota yang terkenal, Jakarta,
Mekkah.
3)
Ism
al-Isyarah (إسم الإشارة), yakni lafazh yang mengandung makna isyarat, seperti Hadza
(هذا)/Ini, atau Dzalika
(ذلك)/Itu.
4)
Isim
Maushul (إسم
موصول), seperti al-Ladzina (الذين) atau al-Ladzi (الذي)/Yang.
5)
Al-Muhalla
bi’al (المحلى
بأل), yakni yang awal lafazhnya dimulai degan al
(ال), seperti kata ar-Rajul
(الرجل).
6)
Al-Mudhaf
ila al-Ma’rifah (المضاف
الى المعرفة), yakni kata yang
disandarkan kepada sesuatu yang bersifat ma’rifat , seperti Kitab
Musa (كتاب موسى)/Kitabnya Nabi Musa.
7)
Yang
disertai dengan kata yang mengandung makna panggilan, seperti ya (يا), dan sebagainya.
d)
Asal usul kata, ini bisa Musytaq
(مشتق) atau Jamid (جامد). Yang Jamid lafazhnya asli, tidak terambil dari satu
kata sebelumnya. Ini bisa menunjuk kepada person, seperti kata syams (شمس), ardh (ارض), Insan (إنسان); bisa juga menunjuk sifat sesuatu, seperti kata syajaah
(شجاعة)/keberanian. Sedang yang
musytaq adalah yang memiliki akar kata dan darinya dibentuk kata
selainnya untuk menunjuk sesuatu atau memberi sifat bagi sesuatu. Ini mencakup:
1)
Ism
al-Fa’il (إسم فاعل) yang menunjuk pelaku,
seperti kata Mukrim (مكرم)/sosok yang memberi
kehormatan/hadiah.
2)
Ism
al-Maf’ul (إسم
مفعول) yang menunjuk objek,
seperti kata Mukram (مكرم)/sosok yang
mendapat/diberi penghormatan.
3)
Ism
al-Tafdhil (إسم
تفضيل) yang menunjuk
superioritas, seperti afhdhal al-Khalq (أفضل
الخلق)/sebaik-baik makhluk.
4)
Ism
az-Zaman (إسم
الزمان) yang menunjuk waktu,
seperti kata mau’id (موعد)/waktu yang
diperjanjikan.
5)
Ism
al-Makan (إسم
المكان) yang menunjuk tempat,
seperti kata ma’radh (معرض)/arena pameran.
6)
Ism
al-Alat (إسم
الآلة) yang menunjuk alat,
seperti kata Miftah (مفتاح)/alat pembuka/kunci.
7)
Ash-Shigat
al-Mubalaghah (الصيغة
المبالغة), fomat intensitas, yang
menunjuk pelaku melakukan sesuatu berkali-kali/dalam kadar yang banyak. Ini
bentuknya banyak, bisa seperti syakur (شكور) atau Hadzir (حذر), dan lain-lain.
8)
Ash-Shifat
al-Musyabbahah (الصفة
المشبهة), yakni ajektif yang
dibentuk dari kata yang tidak membutuhkan objek untuk kemantapan sifat tersebut
pada pelaku, seperti kata karim (مقصور)/sosok yang sangat dermawan.
e)
Akhir katanya, Maqshur
(مقصور), Manqush (منقوص), dan Mamdud (ممدود). Bahasan tentang bagian ini banyak berkaitan dengan akhir satu
lafazh yang menunjuk pelaku dan cara penulisannya. (Sihab, 2013: 46-53 )
3.
Fi’il (فعل)
Fi’il adalah kata yang menunjukkan terjadinya suatu pekerjaan dalam
waktu tertentu (telah, sedang, akan). Biasanya di sebut juga dengan kata kerja. (Agustiar, 2015).
Tanda-tanda fi’il
yaitu : قَدْ
, س (sin) , سَوْفَ تَأُ التَأِنيْثِ السَّاكِنَة ,
·
قد masuk kepada fiil madhi dan mudhari. Bila
masuk kepada fi’il madhi ma’nanya litahqiq (sungguh/benar-benar).
Contoh قَدْ
حَفِظَ sungguh telah hapal. قَدْ
سَمِعَ benar benar telah mendengar. Bila masuk
kepada fi’il mudhari, maknanya kadang-kadang. Contoh قَدْ يَحْضُرُ kadang-kadang hadir.
·
س dan سوف
masuk kepada fi’il mudhari. Apabila fi’il mudhari sudah dimasuki س , سوف maka hanya menunjukkan waktu yang akan dating
saja. Bedanya س menunjukkan waktu yang akan datang tapi
sudah dekat, sedangkan سَوْفَ menunjukan waktu yang
masih jauh.
·
تأ
التأنيث الساكنة (ta yang sukun dan
menunjukkan wanita) masuk hanya kepada fi’il madhi saja.
Adapun macam-macam fi’il ialah Macam Fi’il ada tiga,
yaitu :
a)
Fi’il Madhi (فِعْلٌ مَاضٍ ) yaitu kata kerja yang
menunjukkan waktu lampau.
Contoh
: .نَزَل (Telah turun), حَفِظَ ( telah hafal), كَرُمَ ( telah mulia )
b)
Fi’il Mudhari ( فِعْلٌ
مُضَارِعٌ ) yaitu kata kerja yang menunjukkan waktu sekarang atau akan
datang, dan diawali oleh salah satu huruf mudhari yang empat ن , ي ,
ت أ
Contoh: يَنْزِلُ
, تَنْزِلُ , نَنْزِلُ , أَنْزِلُ
يَحْفَظُ, تَحْفَظُ, نَحْفَظُ, اَ حْفَظُ يُكْرِمُ , تُكْرِمُ , نُكْرِمُ , اُكْرِمُ
c)
fi’il amar (فِعْلُ
الْأَمْرِ ) kata kerja perintah.
Contoh اِنْزِلْ
, اِحْفَظْ ,
اَكْرِمْ
d)
Fiil nahyi (فِعْلُ
النَّهْيِ ) kata kerja yang menunjukkan larangan.
Contoh
لَاتَضْرِبْ (jangan memukul). Fi’il
nahyi dibuat dari fi’il mudhari yang ditambah لا yang berarti
larangan. ( Effendi, 2010: 3)
4.
Konteks-konteks
dalam bahasa Arab
Konteks ialah bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau
menambah kejelasan makna (KBBI, 2008: 728). Menurut Burdi (dikutip dalam Dewi,
2016) kontek-konteks dalam bahasa arab yang harus diperhatikan oleh seorang
pengkaji Al-Qur’an adalah sebagai berikut :
a) Konteks
yang berhubungan dengan tempat سياق
المكان (siyâq
al-makâny) yaitu konteks ayat dalam sebuah surat dan kedudukan
apakah datang sebelumnya ataupun sesudahnya, ataupun dengan memperhatikan
posisi ayat dalam sebuah surat; posisi kalimat dalam sebuah ayat. Konteks tersebut harus diperhatikan sehingga
tidak memotong antara ayat maupun kalimat sebelum dan sesudahnya.
b) Konteks
zaman atau waktu سياق
الزمان (siyâq al-zamany) memperhatikan sebuah ayat dengan melihat konteks
turunnya ayat tersebut, yaitu konteks ayat di antara ayat-ayat lainnya sesuai
dengan urutan turunnya.
c) Konteks
tematik سياق الموضوعي
(siyâq al-maudhû’i), yaitu mempelajari
ayat Al-Qur’an yang dikumpulkan dalam satu tema, baik berupa tema-tema umum
seperti kisah-kisah Qurani ataupun
perumpamaan yang ada dalam Al-Qur’an dan hukum-hukum fiqih, juga
tema-tema khusus seperti kisah khusus seorang nabi ataupun sebuah hukum, yang
dapat ditelusuri di dalam Al-Qur’an secara keseluruhan.
d) Konteks
tentang maksud dan tujuan ayat-ayat al-Qur’an سياق
المقاصد (siyâq al-maqâshidy).
e) Konteks
sejarah سياق التاريخ
(siyâq
at-târ î khy) dengan melihat konteks kejadian sejarah masa lampau yang
telah diceritakan di dalam Al-Qur’an saat diturunkan (asbabun nuzul) dan kejadian-kejadian pada masa sekarang. Al-Qur’an
diturunkan selalu berdampingan dengan konteks turunnya ayat-ayat Al-Qur’an.
f) Konteks
kebahasaan سياق اللغوي
(siyâq al-lughawy), yaitu mempelajari
teks Al-Qur’an dengan melihat hubungan (korelasi) satu lafadz dengan lafadz
yang lainnya dengan menggunakan beberapa instrumen untuk menghubungkan antara
lafadz-lafadz tersebut. Korelasi tersebut melahirkan makna semantik baik secara
keseluruhan ataupun hanya sebagian. Dalam hal ini adalah kebahasaan yang
dimaksud adalah bahasa Arab.
5.
Analisis
Qs. Al-Ahzab ayat 33
a) Temuan Masalah
|
TEMUAN |
MASALAH |
|
Isi Pesan
Whatsapp : MASYAALLAH INI
KAH ARTI QORONA DALAM QUR’AN ? Ternyata
gambaran tentang virus corona sudah ada dalam Qur’an Ini ada disurat
Al-Ahzab ayat 33 Silakan dibuka
bagi yang tidak berhalangan Saya jadi
penasaran dengan arti Qarana, saya sengaja membuka kamus al-Qur’an. Saya
dapati lafadz Qarana ada di QS. Al-ahzab:33. Saya jadi tercengang ketika
melihat potongan ayat tersebut : ﭐ
ﱦ ﱧ ﱨ ﱩ ﱪ ﱫ ﱬ ﱭﱮ
ﱯ ﱰ ﱱ ﱲ ﱳ ﱴ ﱵﱶ
ﱷ ﱸ ﱹ ﱺ ﱻ ﱼ ﱽ ﱾ ﱿ ﲀ ﲁ Artinya : “Dan hendaklah kamu tetap di
rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang
jahiliyah dahulu, dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah
dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kamu,
wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." Pesannya sangat jelas bahwa
lafadz Qarana mengandung arti perintah untuk tinggal. Tinggalnya dimana?
Dirumah-rumahmu, dikeluargamu, karena kata Nabi rumahku adalah sorgaku. Rumah
kalian adalah sorga kalian semua. Ciptakan sorga di keluarganya
masing-masing. Coronavirus menggiring kembalinya kesadaran bahwa yang paling
hakekat dalam kehidupan adalah keluarga. Sehingga Nabi sendiri memberi
parameter kebaikan manusia diukur dari kebaikannya kepada keluarganya خَيْركُمْ خَيْركُمْ لِأهْلِهِ وَاَنَا
خَيْركُمْ لِأهْلِى "Sebaik-baiknya kalian
adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku (Rasulullah) orang yang
terbaik diantara kalian kepada keluargaku” Seakan Allah sedang berkata,
“wahai manusia modern, janganlan cari kepuasan di gedung-gedung mewah yang
menyediakan berbagai macam kamuflase kesenangan yang tak sejati, kebahagiaan
itu bukan karir dan gajimu yang selalu tak memuaskanmu, karena selama ini yang
kau kejar sebagai kenikmatan itu hanyalah fatamorgana dunia yang kalian
anggap kenikmatan dan keindahan (itu semua perilaku jahiliah). Padahal
sesungguhnya sorga itu ada di keluargamu, ada di rumahmu masing-masing yang
bisa kau bangun dan kau ciptakakan. Kembalilah kepada keluargamu
masing-masing dan berbahagialah atas berkumpulnya keluarga.” Dalam ayat ini kita dapat mentadaburi
bahwa Corona yang diturunkan ini sejatinya untuk membersihkan manusia dari
dosa, membersihkan sebersih-bersihnya dari segala hal yang sifatnya
kamuflase, talbis, menuju kesejatian hidup. |
Apakah benar
kata Qorna (berdiam diri) dalam Qs.Al-Ahzab ayat 33 ini adalah gambaran
tentang dari virus corona? |
|
|
b) Penjelasan atau Uraian Masalah
Kata Qorna (قَرْنَ)
yang menjadi temuan masalah pada pembahasan ini didapatkan dari isi pesan
singkat di jejaring sosial (WhatsApp) yang
memberikan penerjemahan
Qs. Al-Ahzab ayat 33, yaitu Mengaitkan
peristiwa tentang virus korona yang
tengah mewabah saat ini dengan surat Al-Ahzab ayat 33, karena pada ayat tersebut memiliki
sedikit kesamaan bunyi yaitu antara Qorna (قَرْنَ)
dan korona. Berkaitan dengan hal ini terdapat tiga masalah yang menjadi sorotan kekeliruan dalam penerjemahan pada pesan tersebut yaitu
sebagai berikut :
1) Dari segi Kaidah kebahasaan diantara ilmu sorof.
Kata Qorna (قَرْنَ) adalah fi’il amr yang menunjukkan jama’ muannats (kata kerja
perintah untuk jama perempuan ) diambil dari fiil madhi (akar kata) Qorro (قَرَّ) yang asalnya adalah Qoriro (قَرِرَ) mengikuti timbangan فَعِلَ
يَفْعَلُ اِفْعَلْ maka menjadi.
قَرَّ يَقَرُّ اِقْرَرْ . قَرَّ fiil madhi يَقّرُّ fiil mudhari اِقْرَرْ fiil amar.
Kata اِقْرَرْ masih
berbentuk tunggal jika dijamakan kepada jama muannats menjadi اِقْرَرْنَ
. Untuk lebih jelas lihat tashrifan (perubahan bentuk fiil amar) berikut
ini :
اِقْرَرْ اِقْرَرَا
اِقْرَرُوا اِقْرَرِيْ اِقْرَرَا
اِقْرَرْنَ
Bagaimana kata اِقْرَرْنَ menjadi قَرْنَ ? Hal ini
terjadi setelah melalui
pengi’lalan yaitu harakat ro (رَ) dipindahkan ke
huruf qo (قَ )
,maka jadi اِقَرْرْنَ di sini terjadi bertemu dua sukun pada
huruf رَ maka salah
satu huruf
رَ (ro) harus di buang, maka menjadi
) اِقَرْنَikorna(,
kemudian hamzah washal dibuang karena sudah cukup dengan harakat qof. sehingga
menjadi ) قَرْنَkorna(.
Jadi huruf ن (nun( pada kata قَرْنَ dalam ayat tersebut adalah bukan huruf nun
asli melainkan huruf tambahan. Menunjukkan nun jamak muannas.
2) Dilihat dari kosa kata ( Mufrodat )
Berdasarkan penjelasan diatas, huruf nun (ن) dalam kata قَرْنَ Al-Ahzab ayat 33 ini bukanlah
nun (ن) asli. Maka arti kata
berdiam diri pada ayat tersebut berasal dari kata Qorro (قَرَّ). Jadi orang yang
mengaitkan kata Qorna (قَرْنَ) dengan virus korona saat
ini hanya didasarkan atas kesamaan bunyi, padahal jika dilihat dari segi
penulisannya, orang arab menulis virus corona dengan كورونا .
Adapun arti dari kata Qorona قَرَنَ jika nun (ن) nya asli dan merupakan fi’il madhi
mempunyai arti menjaadikan sepasang, menggandeng, menyambung, menghubungkan.
(Munawwir, hal.1197) . Kata yang mirip lainya adalah Qornun قَرْنٌ yang
artinya masa atau zaman. (Munawwir, hal. 1197). Dari uraian diatas
membuktikan bahwa kata dengan bunyi yang sama belum tentu memliki arti yang
sama.
3) Dilihat dari konteks tujuan dan urutan ayat
Dalam surat Al-Ahzab ayat 33 merupakan
perintah untuk tetap berdiam diri dirumah. Siapa yang diperintahkan untuk
berdiam diri dirumah? Yaitu istri-istri nabi berdasarkan ayat sebelumnya yaitu
Al-Ahzab ayat 32.
ﭐﭐ ﱑ
ﱒ ﱓ ﱔ ﱕ ﱖ ﱗ ﱘﱙ ﱚ
ﱛ ﱜ ﱝ ﱞ ﱟ ﱠ ﱡ ﱢ ﱣ ﱤ ﱥ
Artinya: “Wahai Istri-istri Nabi! Kamu
tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah
Kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu
orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perbuatan yang baik.”
(Qs. Al-Ahzab ayat 33)
Hal ini menunjukkan jika orang yang
mengaitkan Qs.Al-Ahzab ayat 33 dengan peristiwa saat ini tidak melihat konteks
tujuan dari ayat yang dimaksud serta tidak melihat konteks urutan ayat. Berdasarkan
ayat sebelumnya perintah berdiam diri ditujukkan kepada istri-istri Nabi, hal
ini dikarenakan istri-istri Nabi berbeda dengan perempuan lainnya. Kalauhlah
perintah berdiam diri itu ditujukkan untuk seluruh manusia maka seruan pada
ayat 32 berbunyi yaa ayyuhannas (يَا يها الناس) bukan ( يانساءالنبي).
Jadi berdasarkan penjelasan diatas, Qs.
Al-Ahzab ayat 33 tidak ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi saat ini, perintah
untuk berdiam diri dirumah saat ini bukan hanya ditujukkan untuk perempuan saja
melainkan diperintahkan untuk semua orang dan perintah berdiam diri sekarang
disebabkan oleh virus.
C.
Penutup
Dari uraian diatas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :
1. Kesimpulan
a. Metodelogi
studi islam adalah cara yang digunakan untuk mempermudah pengkajian islam.
Pengkajian islam tidak bisa dilakukan hanya dengan satu pendekatan atau satu
metode saja, melainkan membutuhkan beberapa gabungan pendekatan ilmiah dan doktriner.
b. Pendekatan
dalam pengkajian Islam harus sesuai dengan objek yang dikaji. Pendekatan bahasa
Arab sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pengkajian sumber
hukum Islam yang mempunyai objek kajian berupa scripture (naskah atau teks).
Oleh karena itu, Al-Qur’an sebagai naskah keagamaan dapat dikaji dan dinalisis
melalui pendekatan bahasa Arab ini sehingga menghasilkan pemahaman yang benar
dan tepat.
c. Kedudukan
kaidah bahasa arab sangatlah penting dalam studi islam, diantara kaidah-kaidah
bahasa arab adalah kadiah nahwu sorof. Kaidah ini sangat penting dalam memahami
ayat-ayat Al-Qur’an.
d. Hasil
dari analisis Qs. Al-Azhzab ayat 33 yang dikaitkan dengan peristiwa saat ini
melalui pesan WhatsApp itu ditemukan tiga masalah yang menjadi sorotan
kekeliruan yaitu: Orang yang menulis pesan tersebut kurang memahami
kaidah-kaidah bahasa arab yakni dari segi kaidah kebahasaan, kosakata
(mufrodat) dan tidak memperhatikan konteks tujuan ayat serta urutan ayat.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, A. & N. (2011). Teori Metodologi
Penelitian. Teori Metodologi Penelitian.
Anwar, Rosihon.
(2009). Pengantar Studi Islam. Bandung, pustaka setia.
Azimi, Z. (2004).
Studi Islam Komprehensif. Mentari.
Bakri, S. (2014). Pendekatan-pendekatan
dalam Islamic Studies. DINIKA Journal of Islamic Studies, 12(1).
Dewi, I. S. (2016).
Bahasa Arab dan Urgensinya dalam Memahami Al-Qur’an. Kontemplasi.
Effendi, Wawan. (2010). Pokok-pokok Nahwu sorof. DIKTAT
Santri.
Hula, I. R. N
(2020). Metodelogi Studi Islam: (Orientasi Umum, Signifikansi, Objek dan
Perkembangannya).
Katsir, Ibnu.
"Tafsir Ibnu Katsir jilid 1”. Syirkah Nurasyiah
KBBI. (2008).
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). In Departemen Pendidikan Nasional
Kutha Ratna,
N. (2004). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Munawwir,
A.W. Kamus Arab Indonesia
Rahman, Salimuddin
A. dkk. (1990). Tata Bahasa Arab Untuk Mempelajari Al Qur’an (Bandung: Sinar Baru)
Shihab, M. Q.
(2013). Kaidah tafsir. Lentera Hati Group.